Palu – Donggala Trip, one year to spend together ~ (Part 1)

   Liburan masih berlanjut, walaupun tak sepanjang liburan Natal dan sedikit drama rencana liburan akhir tahun akhirnya sukses terlaksana. Sempat diawali dengan ribut hanya wacana dan tiket yang tak kunjung dibeli dan akhirnya naik seratus ribu dari harga awalnya, itinerary yang kususun bersama Icang dengan impossible destinations nya trip kami dijalankan dengan timing yang sesuai harapan. Bagi bagi tugas Dika sebagai driver full time, aku nyatet perjalanan, Icang dokumentasi, Arum a.ka bukos sebagai bendahara, Imsul dan mbak Res sebagai Seksi konsumsi yang wara wiri turun mobil beli jajan selama perjalanan trip kami selama sekian hari dipastikan aman.

 Liburan masih berlanjut, walaupun tak sepanjang liburan Natal dan sedikit drama rencana liburan akhir tahun akhirnya sukses terlaksana. Sempat diawali dengan ribut hanya wacana dan tiket yang tak kunjung dibeli dan akhirnya naik seratus ribu dari harga awalnya, itinerary yang kususun bersama Icang dengan impossible destinations nya trip kami dijalankan dengan timing yang sesuai harapan. Bagi bagi tugas Dika sebagai driver full time, aku nyatet perjalanan, Icang dokumentasi, Arum a.ka bukos sebagai bendahara, Imsul dan mbak Res sebagai Seksi konsumsi yang wara wiri turun mobil beli jajan selama perjalanan trip kami selama sekian hari dipastikan aman.

Kamis, 31 Desember 2015

20.15 – 21.55

Setelah semalam menyusun itinerary perjalanan, kami berangkat setelah ada instruksi kantor untuk tetap buka sampai malam yang sempat menghalangi. Untungnya di antara kami berenam tak ada yang dapat jatah untuk jaga loket. Taksi jemputan datang, off to Sepinggan airport dan delay, pesawat kami yang seharusnya terbang pukul 20.50 baru berangkat sejam kemudian. Ada yang main hp, tidur tiduran, ada yang sibuk megang telinga kiri dan ada yang cuma duduk ngelamun. Alhamdulillah ya akhirnya trip wacana dilaksanakan juga.

21.55 – 22.40

Pesawat berangkat menuju kota Palu, penerbangan lancar dan kami mendarat dengan selamat di ibukota Sulawesi Tengah ini. Bandara Mutiara SIS Al Jufri menyambut kedatangan kami dengan cuaca panasnya, alhamdulillah berpijak di tanah Sulawesi. Mobil jemputan kami batal datang, akhirnya dengan keadaan dipaksa melek kami naik taksi sampai guest house.

Kebetulan pemilik guest house ini adalah pegawai KPP Poso, yang tinggalnya di Palu, bu Hermina namanya. Rumah beliau menempati area yang cukup luas, bahkan ada kolam renang dan meja ping pong disediakan, oiya disini kami menginap dengan harga per kamar 250ribu untuk bertiga. Aku, Arum dan mbak Resti di kamar tengah, sedangkan Dika, Icang dan Imsul di kamar satunya.

Malam tahun baru hanya suara kembang api dan riuh langit Palu yang terlihat dari guest house, toh kami tak berencana kemana mana malam ini, biarlah satu tahun kami habiskan untuk istirahat.

Happy Neuer everybody ~~

Jumat, 1 Januari 2016

05.00 – 08.00

Yang bangun pagi sholat terus tidur lagi ada, yang bangun just in time dan langsung beberes mandi juga ada, tidur sekian jam dan 2015 berlalu begitu saja. Selamat datang tahun yang baru, mulai hari ini rencana trip kami menjelajahi Palu dan Donggala harus dijalankan semaksimalnya.

08.00 – 09.00

Ngomong –ngomong soal rencana perjalanan, waktu sejam kami agak molor karena mobil pinjaman ternyata lokasinya cukup jauh dari guest house kami. Dika dan Icang yang nyamper ke lokasi, da kami mah sisanya gegoleran dan siap siap sambil nunggu mobil rentalan datang.

09.00 – 11.00

Mobil datang, kami siap menyusuri jalan menuju Donggala. Memang tak sesuai dream itinerary yang terlalu ngoyo perjalanan kami buat agak flexible tak terlalu sesuai itinerary awal yang terkesan sangat ambisius mengunjungi banyak tempat sekaligus. Well diputuskanlah tujuan kami mencari penginapan sekalian ke pantai Tanjung Karang. Dari Palu menuju Donggala kami menempuh waktu sekitar 60 menit. Sebenarnya akses jalan tak terlalu buruk tapi karena kami terlalu excited melihat rute perjalanan yang melewati garis sepanjang pantai waktu tempuh kami sedikit lebih lama. Pemandangan laut yang berwarna biru dan tosca yang terlihat jelas gradasinya adalah impossible view to find di kota yang kami tinggali, Balikpapan. Teriak teriak macam orang ayan kami di sepanjang perjalanan, ditambah obrolan bodo ejek – ejekan dan ngelawak sambil nyanyi nyanyi di perjalanan, kami tiba di Pantai Tanjung Karang yang mulai ramai diserbu pengunjung.

11.00 – 13.00

Kekhawatiran kami pun terjawab, ya cottage yang harganya miring sudah ludes diserbu wisatawan. Berpencar untuk mencari cottage yang bisa kami gunakan menginap kali ini, panas terik apalagi di pantai makin membuat kami lemas, alhamdulillahnya sih akhirnya kami sepakat menginap di cottage paling pojok menghadap pantai langsung dan akan digunakan menginap berenam. For the sake of our budget menyewa satu cottage pun lebih dari cukup daripada harus kembali ke kota dan besoknya masih akan menempuh perjalanan lama.

13.00 – 15.00

Tenang karena dapat cottage idaman, kami pindah haluan ke punggungan laut yang lain menuju Pusat Laut Donggala. Perjalanan yang kami tempuh tak begitu jauh, tempat tujuan kami yang lain tak didapat karena ternyata Desa Limboro yang kuandai – andai memiliki sebuah sentra industry tenun tak sesuai seperti yang dipikirkan. Di tengah perjalanan niat ingin bertanya jalan kami malah berhenti mampir di toko dan berenam kompak semua beli topi, alay sih kalua dipikir tapi gapapa lah hahaha.

Dan jadilah kami berkunjung di Pusat Laut Donggala a.ka Sink Hole yang konon katanya bagus. Mungkin karena efek pagar pembatas sekarang dibuat tembok melingkari dan kepadatan pengunjung yang keterlaluan banyaknya membuat pesonanya sedikit pudar di mata kami. Hmm, berharap ga boleh ketinggian memang ya. Sebenarnya bagus saja sih airnya biru, karena kelewat ramai banyak orang rencana kami ikut nyemplung pun batal.

Sekedar selfie selfie tak tau malu di pantai ( yang tak lebih bagus dari pantai sebelah), selfie di sink hole dan hanya berkeliling sebentar sebelum kami memutuskan kembali ke cottage dan main air.

15.00 – 16.00

Kembali ke cottage pun akhirnya terdistraksi dengan tujuan lain yaitu ke desa Boneoge. Lagi lagi kami terlalu berharap pantai lain akan sebagus pantai sebelah. Mungkin karena sok tau dan penasaran kami teruskan perjalanan sampai mentok di pantai Kalulu (cmiiw) untuk sekedar menikmati sunset. Tapia pa daya karena keinginan kami untuk segera ke cottage rencana nonton sunset di sini batal. Kami hanya duduk – duduk nyemil dan minum pop ice.

16.00 – 18.00

Melihat pantai biru siapa yang tak tergoda untuk nyebur dan main air sih, kami pun tergoda setelah berpikir mau istirahat saja kok saying. Begitu kamar bisa dibuka dan drop barang, seperti bocah kami lari – larian ke laut. Wateeeeer, I’m coming ~

18.00 – 19.30

Main air, dorong dorongan, cebur ceburan like a kid again, basah kuyup main ban dan kejar kejaran lempar lempar pasir harus diakhiri karena hari mulai gelap. Aku dan Icang keliling mencari penyedia jasa untuk snorkeling besok sementara Arum dan Dika keasikan ngobrol di teras cottage, Imsul dan Mbak Resti sedang antri mandi di kamar mandi luar. Well, perut tak bisa lagi dikendalikan saking laparnya. Waktunya keluar mengisi perut yang kosong  dan terus menerus berbunyi ~

19.30 – 20.30

It’s s hard to find places to eat nearby. Sedih kali ya musim liburan begini malah banyak tempat makan yang tutup. Kami sempat berniat ke perbatasan Donggala Palu demi sesuap nasi, dan hamdalahnya ada tempat warung penyetan buka. Terus baper inget Pulau Jawa, mendengar orang ngobrol dengan nada membentak – bentak agak gimana rasanya kalau dibandingkan dengan kampung halaman. Dan antrian makan di tempat ini pun cukup lama, lumayan sampai bisa kutinggal tidur sekian menit.

Aturan makan tidak tertulis di sini, kalau giliran pesananmu belum juga datang proteslah untuk segera dilayani. Jangan kelewat sabar, apalagi mukamu yang terlalu Jawa bakal membuatmu dilayani lebih lama. Hahaha #cmiiw

20.30 – 22.10

Perut kenyang, setengah ngantuk tapi kok masih jam segini sayang kalau langsung merem dan menyia nyiakan kartu UNO yang sudah jauh jauh dibawa dari Balikpapan. Walaupun hanya dua putaran karena mata merem melek sebelah menahan kantuk sambil ketawa tawa saling ngece lumayan lah ada hiburan malam di cottage kami yang sangat dekat dengan pantai. Debur ombak dan semilir angin walaupun sebentar lumayan menghibur penutup hari ini ~ Goodnight everybody

to be continued….

Advertisements

Hello Samarinda,East Borneo Capital

   Dua hari terakhir liburan Natal aku memutuskan ke Samarinda sendirian pada akhirnya, daripada daripada di kosan sendirian betapa menyedihkan. Berangkatlah aku ke bandara setelah muter muter cari kado dianter mas Gacan. Off to Samarinda, first timer naik Kangaroo travel. Hmm sebenarnya harga travel untuk kota yang jaraknya sekitar tiga jam ini lumayan mahal, 135k untuk jarak sepersekian kilometer. Setelah tiga jam terombang ambing di perjalanan sampailah aku di ibukotanya Kalimantan Timur, ciyee sampai Samarinda. Panas? Iya. Berdebu? Banget. Bahkan kata orang Samarinda sendiri pun kotanya tak lebih bersih dari Balikpapan yang kini kutinggali.

Samarinda tak terlalu banyak menawarkan tujuan wisata, paling hanya Islamic centernya yang berbentuk seperti Hagia Sophia di Istanbul sana dan pemandangan Sungai Mahakam di depan mata. Rencana ku ke Samarinda adalah mengunjungi newly born baby nya Mbak Fania dan Mas Fahmi, dedek Hashif. Duh dek lucu banget udah sekian bulan aja makin tumbuh, kayanya baru kemarin kenal sama emaknya dan masih empat bulan usia kandungannya.

Bermalam di rumah dedek bayi dan sedikit ngerepoti hehehe akhirnya hari Minggunya aku pulang. Dadah dedek Hashif, kunjungan ke depan semoga ga sendirian ya :p

Mampir ke rumah temen sekelas DTSD, si bumil yang lagi dipingit ndak boleh ke mana – mana, ngobrol ngalor ngidul sampe sore ndak kerasa. Alhamdulillah ya pergi ke Samarinda ada hikmahnya, kan lumayan nambah silaturahmi, walaupun kering berdebu dan panas terik, pulang nenteng sekeresek jengkol ketan siap pulang ke Balikpapan.

See you again ibukota nya Kaltim ~

Aku pulang..

 

ke Balikpapan :””””””

Singing at the Lounge

As I’ve mentioned before that these four days streak I’m being all alone at home while everyone leaves to catch their holiday plans. First day home alone it’s Thursday, I’m so thankful that after sending Arum off at the airport I fall asleep until afternoon and realize that I get some friends who stay here.

A guy in my neighbour office stays here while his housemates go home. Thanks God I got a friend hahaha. Pack things and left to the mall ( I usually avoid coming to mall, I’m not into it actually) to go seeing him and I get two more friends coming after. Before sitting and eating at the café he’s at, I come see my Jakarta friend for awhile. And just two pieces of selfie will do, have a nice vacation in the next city dude.

Coming to Newstar Kopitiam, my plan was to sit, enjoy the coffee and write but end up eating meals there. Talking too much, the clock moves fast. Two more people come then we move to Jatra hotel to sit in the lounge. Here we are, J Cuvee Lounge with its cozy mood but crowded. Enjoying another cup of coffee, be strong tummy you gotta chew more caffeine. The singing time starts when I am about to get bored. I don’t want to sing at first, just wanna enjoy the music but then Mas Banu convinces me.

I nervously sing there, and again this song (Don’t You Remember – Adele). My college mates will bully me when they see me singing the song again. Don’t you have plenty reference? Why keep singing this one? It’s okay I am so happy that I sing the song again. The sound system is nice by the way.

I walk to my crowd when the guy in front line says “ You have a good voice girl, why don’t you sing again?” Hahaha thank you, it reminds me of my childhood dream of being singer and doctor. If only my physic didn’t get ruined this way, I wont be emotionally damage. I keep the dream of being singer, unability to join the contest was just another failure. I will just sing like the way I want, sing without even able to read the whole melody.

Well, singing at the lounge really made my day.

See ya in the next time my mood of singing comes ~

Happy me,

Anggi

Sunset at The Balcony

IMG_20151223_181341

Having a long weekend for Christmas, as Michael Bubble “All I want for Christmas is you” song being played everywhere staying alone is my choice during the holiday. Last night before my only homemate go home, we get free ticket to watch Negeri Van Oranje movie. Thanks to Keiko with her kind offering when I’m not in the mood of doing the training. Sorry shifu I skip the class and decide to watch the movie instead.

Being overwhelmed lately, I must have been wanting to go on a picnic lately. Get a rest Nggi, just relax, no need to rush in everything. After getting the ticket that I almost lost due to my careless habit, there’s still one hour left and we move to the balcony where people usually eat their chicken while catching some sunset.

I don’t quite understand why this mall concept is ruined and be this empty. It’s just the chicken franchise that the brand I don’t have to mention as the only attractive spot of the mall. We have the balcony with sea view, planes flying near and sunset spot that everyone loves.

Here I am, doing the same thing like what people love doing here. Sitting near balcony and enjoying the view of sunset we used to see.

Although it’s driving me crazy that I’ll stay alone for four days streak, I’m okay. I just want to enjoy the sunset at the balcony.

When will you come with me?

Anggi

Ana’s Wedding and Mini Reunion

 

Pulang kampung bukan di libur weekend panjang Natal dan tinggal sendiri di kala orang – orang pulang adalah pilihan yang harus kujalani. Bisa sih pulang lagi pas libur Natal, tapi itu terlalu berlebihan rasanya dua minggu berturutan pulang kampung padahal kantong mulai mengering. Jumat pagi pulanglah aku lewat penerbangan ke Semarang setelah lari – larian karena last call dikumandangkan, tas putus dan just in time pesawat bersiap untuk terbang. Sampai Semarang dalam keadaan telinga semakin luka, hari masih panjang dan kecapekan luar biasa sampai akhirnya membuatku harus menunda pulang karena hujan deras tak kunjung usai. Sabtu pagi pulang ke rumah sebentar, tidur – tiduran dan harus segera siap siap kondangan.

Going back to hometown not in the Christmas long weekend and stay alone while everyone’s going home is the choice I’ve made. I can go home again actually, but it seems too much wasting for money while my wallet’s running out of money. Friday morning I came home via Semarang after running in the gate since last call was being announced, broken bag, and just in time the aircraft was being ready to take off. My ear hurt even more after landing, feeling exhausted and I had to pushed back the going home plan and stay the night. It was raining hard outside. Saturday morning jumped out the bed and went home, get ready to attend the wedding.

      

Ana, anggota kos Paus Jelita yang akan melepas masa lajang pertama kali. Piala bergilir kosan dan IKMM sudah disiapkan, dengan rencana mendadak akhirnya kami tujuh lajang lainnya menyewa satu mobil agar bisa datang bersama. Maklumlah, adek punyanya motor bang, ga lucu kalo nanti udah cantek cantek luntur kehujanan. Aku, Handay, Reni, Maya, Ichi, Putya, Arlin berangkat bersama, bahagia ya di hari pernikahan salah satu penghuni kosan kami lengkap berdelapan, dengan status salah satu jadi istri orang sekarang. Jalanan sempat macet dan kami datang ketika acara sudah separuh jalan. Another reunion yang membuatku terharu adalah bersatunya geng badung kpp 533, bahagia banget ketemu manten, Bunga, Etu, Swasti, mbak Napis, mbak Atri, Soniya, sama mbak Enggar. I am so grateful that I come home and see them. Walaupun cuma sebentar Alhamdulillah tali silaturahminya bisa disambung sambung. Selamat menjalani status baru Ana, semoga yang lain segera menyusul.

Ana, Paus Jelita’s member will be the first to get married. Our Paus wedding trophy and IKMM had been prepared, with sudden plan us seven attend the wedding together riding a car. It’s not funny If we all dressed up and get wet under the rain hahaha. Me, Handay, Reni, Maya, Ichi, Putya, Arlin come together, we’re so happy that eight of us reunited while one of us is the bride. Almost get stuck in the traffic and finally we can arrive just in the half time. Another reunion that made my day was the reunion of geng badung 533, I’m sooo happy to see the bride Ana, Bunga, Etu, Swasti, mbak Napis, mbak Atri, Soniya and mbak Enggar. I am so grateful that I come home and see them. Eventhough its for a while, Alhamdulillah we’re still being connected. Have a happy new status Ana, hope others can go the same way soon. 

Seusai acara, rencana jalan jalan kami batal karena cuaca mendung tak karuan dan pak supir yang keburu pulang. Akhirnya aku, Reni di rumah Handay menunggu hujan reda, kami ngeteh ngeteh sambil ngobrol. Dan kami seakan lebih sibuk dengan hp masing – masing, sorry for unconsciously unaware of our surroundings.

After the wedding, our hangout plan should be cancelled due to the bad weather and our driver unability to take us there. Finally me and Reni stay at Handay’s place while waiting for the rain to stop, drinking our tea and having kind of chitchat. It seems like we’re being busy playing our own smartphone that turns us to be dumbass, sorry for unconsciuously unaware of the surroundings.

Tersisa sisa hari Sabtu ini sekian jam saja dirumah, dan hari Minggu yang terpotong setengahnya. Sebelum kembali ke perantauan, pagi – pagi ibu pamit berangkat kerja. Anyyeong mom, sampai ketemu lagi taun depan. Hari ini kejar waktu untuk ketemu sahabat lama, bahagianya ketemu Balqis dan Eni walaupun status kami sekarang beda. Yang satu emak beranak satu, satunya mbak mbak bank kece, dan satu lagi belajar istiqomah jadi cewe, toh kami tetap bisa berteman baik apa adanya sampai sekarang. So far geng kami mreteli pun tak masalah, sepuluh tahun sudah tapi rasanya masih sama, ngobrol dan membahas topic apapun tak ada canggung sama sekali. Time flies ya, obrolan kami pun sekarang berkembang seiring bertambah tua.

Half day of Saturday left, and Sunday will give me several hours to stay before coming back on board. My mom should go to work today, annyeong mom, see you next year. Today’s agenda I go to see my mates, old school besties, Balqis and Eni. I’m so happy to meet them although we have totally different status. One is a mom, another one is a pretty bank worker, and me as the one who’s trying to be feminime could stay friends no matter what. So far our gang isn’t complete anymore but its okay, ten years passed by and it still the same, we can always talk about everything and never feel awkward. Time flies seriously, our topic changes since we’re growing older.

Tersisa sejam waktu sebelum ke Semarang, pamit ke sana sini, packing dan ngebut ngejar bis. Sempat selfie sebentar sama bapake, galau galau sedih karena lagi lagi pulang hanya dua hari. I’m coming back on board, to Borneo. Semoga pulang tahun depan barokah ya, walaupun ancaman pengurangan tunjangan di depan mata.

One hour left before going to Semarang, packing, saying goodbye and rushing my way to chase for the bus. Taking selfie with dad sadden me even more that I only come home for two days. I’m coming back on board Borneo. Hope next year it gets better, although our salary will be pressed.

Sampai ketemu lagi Jawa, gotta miss you much.

See you again Java land,

Kisskiss,

Pendudukmu yang sekarang tinggal di pulau seberang

Your people who live across the land

Delicia Cafe, Balikpapan your Latin taste

Balikpapan, kota yang tak akan membuatmu kehabisan referensi tempat hangout ketika berada di sana . Kota yang tumbuh menjadi salah satu kota dengan perkembangan terpesatnya di Indonesia ini adalah wajah termetropolitan di pulau Kalimantan. Gaya hidup masyarakatnya yang suka menghabiskan uang ditandai dengan maraknya tempat nongkrong sebagai salah satu syarat pergaulan masa kini bagi anak mudanya.

Well, untuk urusan cafe atau coffeeshop Balikpapan punya banyak referensi. Salah satu tempat yang akan kuulas kali ini adalah Delicia Cafe. Terletak di sepanjang jalan utama Balikpapan Selatan, tepatnya jalan MT Haryono cafe bertema latin ini menjadi salah satu favorit karena cita rasa latin yang dijualnya kental dan menjadi ciri khasnya. Dengan range harga dari 20-70 k untuk setiap menunya, tempat ini layak dijadikan salah satu cafe favoritmu. Menu yang dijual ala ala latin dan suasana cozy adalah hal yang kucari di sini. Beragam minuman dan makanan yang dijual di sini rasanya enak dan well cooked menurutku, bahkan untuk menu semacam telur dadarnya pun rasanya unik. Beda dengan telur yang kugoreng sendiri di dapur kosan.

   Kalau tak ingin suasana yang terlalu riweuh dan ramai datanglah di kala weekday, cafe ini tak akan semrawaut seperti bayangan.

Find your happiness in the food you eat,

Happy eating, happy living

Kisskiss,

Anggi R Dewi

Etnica Coffee & Kitchen, Balikpapan

Balikpapan, kota tersibuk di Kalimantan ini tak pernah kehabisan referensi tempat nongkrong bagi para muda mudinya. Coffee shop adalah tempat yang paling mudah ditemui di kota ini. Ruko Pasar Segar Balikpapan Baru adalah salah satu lokasi terfavorit untuk menghabiskan waktu sekedar untuk nongkrong, ngobrol atau sekedar tempat janjian. Di kawasan Ruko ini terdapat banyak tempat makan, cafe dan berbagai toko berjajar rapi. Bahkan ada butik butik dan juga tempat latihan muay thai di kawasan ini.

Balikpapan, the busiest city in Borneo never stop having references for the young to hangout. Coffee shop is the easiest place to be found in the city. Pasar Segar Block in Balikpapan Baru is one of the most favourite to spend time, chitchating or meetup place. In the area there are various eating spot, cafe, shops. There’s also clothes store and even muay thai training camp there.

IMG_20151213_200504

   Etnica coffee & kitchen adalah cafe yang ingin kureview kali ini, terletak persis di sebelah Coffee Talk, aroma persaingan terbuka terlihat jelas di sini. Menu yang ditawarkan di cafe ini hampir sama dengan coffee shop kebanyakan di Balikpapan lainnya. Ada banyak aneka minuman berbau kopi bagi para pecintanya untuk dinikmati di sini, selain kopi cemilan ringan untuk sekedar menemani ngobrol juga tersedia.

Etnica coffee & kitchen is the lucky cafe I’m reviewing this time, located right beside Coffee Talk, competition atmosphere is easily being felt. Menu offered in the cafe almost the same with another coffee shop in Balikpapan. There are various coffee menu for coffee addict to taste here, beside there’s also small bites food for chilling all night.

IMG_20151213_200113IMG_20151213_200155IMG_20151213_200245IMG_20151213_200429IMG_20151213_201214IMG-20151213-WA0027

Maybe you feel a bit bored with your lazy weekend rolling around bed all day?

Take your coat and come out,

See me at the cafe,

Restiananggi

Book Cafe, Balikpapan one stop cafe

Berada di kota tersibuk dan modern di Kalimantan adalah hal yang patut kusyukuri. Bagaimana tidak, kota ini ramai dan banyak one stop cafe di mana aku bisa leluasa menghabiskan waktu untuk ber me time atau hangout bareng geng di sela stress beban kerja.

IMG_20151212_181432_1IMG_20151212_183131

Salah satu cafe favoritku di sini adalah Book Cafe yang terletak di Ruko Bandar. Cafe yang terletak persis di sebelah Happy puppy karaoke ini menawarkan konsep yang menarik dan lain dari cafe kebanyakan. Cafe berkoneksi WiFi kencang ini menyediakan menu ala cafe yang cukup beragam, ada pula buku yang disewakan dan disediakan gratis, dan mainan yang ada dan bisa digunakan pengunjung yang bosan menghabiskan waktu hanya duduk duduk ngemil.

IMG_20151212_181416

IMG_20151212_181510 IMG_20151212_182339

Desain ruangan yang tak terlalu ruwet tapi terkesan rapi membuat pengunjung betah berlama lama menghabiskan waktu.

IMG_20151212_184204

   Tempat ini memang cukup jauh dari kos, tapi bisa jadi alternative untuk ber me time atau kabur sebentar dari bosannya menatap dinding kos kosan.

So where will you spend the Holly weekend?

Come and get addicted to this cafe

 ~Cheers,

Anggi

Postcrossing Again!

Having stopped for months since I need time to adapt in this new place, now I’ve found again my mood to do the postcrossing. Eventhough I’ve lost many postcards that supposed to come to me, I got one from my highschool mates. At least I’m happy that I get postcard sent to me.

   Sunny day, burning sunlight couldn’t stopped me from going to the post office, riding motorcycle and be happy finding the orange building standing in the city. It’s bigger than the one in my hometown, hope this won’t make my postcard being ruined during the way or lost ever again.

Look, the left pic was the postcard to my penpal in Rusia and the right was the huge stamp I bought from the post office. :”>

Happy postcrossing again dear, find another activity that will never break your heart!

Cheers,

Restiananggi

Canopy Bridge Bukit Bangkirai, finally unlocked!

IMG_20151122_114519

Hello Canopy Bridge, setelah sekali gagal sampai di Bangkirai karena motor kepleset dan nyungsep akhirnya kali kedua datang berhasil sampai lokasi. Yeaay! Setelah janjian yang ga tentu keputusannya karena ada sebagian yang fix, ada yang berhalangan ikut dan ada calon peserta yang cuma omong doang. Berangkatlah kami seadanya, setelah nambah satu peserta dadakan yang langsung fix ikut dan bisa diajak kerja sama. Minggu jam 9 pagi aku, mbak Rest, Icang,Udik dan Mas Angga berangkat ke Bangkirai sesuai rencana, walaupun dengan sisa – sisa kecapekan karena acara ICV sebelumnya. Bismillah!

Hello Canopy Bridge, after once failed to go to Bangkirai caused by the slippery track that made us fall down and this second time we finally made it. There were the ones who couldn’t join the trip, there were also the big mouth ones but not even joining. There we go, after getting one more sudden member and go as planned. Sunday 9 a.m me, mbak Rest, Icang, Udik, and Mas Angga went to Bangkirai, although we were deadly tired after ICV. Bismillah! 

IMG_2083

IMG_2070IMG_2081

Tepat dua jam perjalanan dari pusat kota ke Bangkirai kami tempuh, touchdown yeay! Sampai sebelum dhuhur dan cuaca belum mendung lagi akhirnya kami berhasil juga ke Bangkirai. Dengan tiket seharga …. Dan… untuk melintasi Canopy Bridge, trekking masuk ke hutan sekitar 15 menit ini lumayan membuat kami berkeringat. Pemandangan hutan sepanjang jalur masuk ke Canopy Bridge sangat menyenangkan, walaupun ini bukan naik gunung tapi masuk ke hutan – hutan seperti ini rasanya bikin bahagia. Kanan kiri terlihat banyak pepohonan tinggi khas hutan Kalimantan, banyak pohon Bangkirai (yang diambil jadi nama tempat ini), banyak pula jenis pepohonan yang menjadi pohon adopsi. Pengen ngadopsi pohon juga tapi ndak tau caranya, could somebody tell me?

Two hours exact time we spent to reach Bangkirai from the city, touchdown yeay! We reached the place before dhuhur and the weather still nice finally we made it to Bangkirai. With k entrance tiket and k for the Canopy Bridge, trekking into the forest about 15 minutes successfully made us sweat. The view along the entrance trek to Canopy Bridge was great, although it’s unlike mountaineering but going to forest like that made me really happy. There were many high  Kalimantan trees, many Bangkirai trees (which was taken as this place name), there were many adopted plants too. Wanna adopt one too but I don’t know how to do so, could somebody tell me?

IMG_20151122_111939 IMG_20151122_112943IMG_20151122_113037IMG_20151122_111514

Oiya, bagi yang iseng dan tangannya suka usil harap hati- hati karena di lubang pepohonan sering ada ularnya. Beberapa pohon sudah ditulisi peringatan, yang penting jangan usil dan tetap seperlunya. Antrian untuk melintasi jembatan gantung ini tak terlalu banyak untungnya, walaupun ada rombongan lain yang  berlama – lama tak mau gantian kloter selanjutnya waktu kunjungan kami tampaknya belum sampai puncaknya. Sempat agak kesal karena rombongan sebelum kami yang lamaaanya minta ampun, ditambah vandalisme di kayu – kayu canopy bridge ini rasanya #kretek bikin hati ini retak karena emosi. Kalo nggak bisa ngerawat please atuh jangan ngerusak, setidaknya biarkan aja sebagaimana adanya.

IMG_20151122_114539

Canopy Bridge ini terdiri dari beberapa bagian yang saling menghubungkan satu pohon ke pohon lainnya dan hanya boleh dilewati satu per satu orang di tiap jembatannya. Sebenarnya ketinggian adalah salah satu phobia dari beberapa yang kupunya, alhamdulilah sih walaupun jalan timik – timik aku berhasil melewati jembatan – jembatan gantung itu. Dan ketagihan, tapi kami hanya sekian menit di atas, jalan melewati jembatan, foto – foto, menikmati pemandangan hutan dari ketinggian. Subhanallah bahagia rasanya menatap hamparan pohon dari ketinggian. Semoga kebakaran – kebakaran hutan tidak terjadi lagi ke depannya ya. Katanya paru – paru dunia masa bopengan, kan ga keren.

Canopy Bridge consist of several parts that connect one tree to another and only one person allowed each when passing through the hanging bridge. Actually height is one of my phobia, Alhamdulillah walking slowly and I could pass all of them. And addicted, but unfortunately we only crossed the bridge in several minutes, taking pictures, enjoying the forest view from heights. Subhanallah I was really happy to see the view. Hope that there’s no more forest burnt in the future. It’s totally uncool seeing the world’s lung being burnt that way.

IMG_2037IMG_2059IMG_2062IMG_20151122_114519IMG_20151122_120822SAM_9907

Setelah naik jembatan gantung kami tak langsung pulang, tapi trekking ke kebun anggrek dan kebun buah yang ternyata kering -__- Ya ampun sudah sejauh ini kami jalan, tapi lumayanlah sudah lama ga trekking keluar masuk hutan. Keringat bercucuran, gambling jalan keluar untung ketemu jalur yang benar, pulanglah kami dengan perut keroncongan dan langit yang mulai mendung .

After passing the Canopy Bridge, we didn’t go home right after but walked along the trek to orchid and fruits area that turned out to be dry. -___- We’ve walked that far, good enough for me since long time no trekking into the forest. Sweating, gambling to decide the way home and there it was the right track, we went home starving and the sky started to turn dark

IMG_20151122_120314IMG_20151122_120422IMG_20151122_125031SAM_9859

 

Rencana bablas ke pantai kota sebelah batal karena waktu dirasa mepet, pulanglah kami dengan banyak pikiran dan cucian. Nyuciin mobil, sholat, pulaaang.

Our beachwalking plan was being pushed back since we’re running out of time. We went home with many things in mind and clothes waiting to be done. Washed the car, prayed, went home right after.

See you the in another trip  we’re going to have fun ~

SAM_9846

Kissbye,

Anggi Restiana