Pendakian di Bulan Ramadhan, Mount Prau Lautan Kabut 2.565 mdpl

 Bulan puasa naik gunung? Tak begitu masalah menurutku, itung – itung melengkapi perjalann ke Dieng bulan Mei kemaren yang belum lengkap karena meninggalkan Gunung Prau. Boleh sih, tapi itu tidak berlaku untuk orang yang sedang masuk angin dan kondisi tidak sepenuhnya fit yang dua hari sebelumnya hanya tidur – tiduran, aku. Apalagi aku yang mendadak ikut minim persiapan, untuk fisik terutama. Pendakian pertama ku di bulan Ramadhan, pendakian yang bisa dibilang bikin kapok naik gunung ini memberiku banyak pelajaran hmm. Awalnya Pangki, Sundul dan Pono berencana ke Prau bertiga, karena Sundul bertanya tempat sewa tenda aku ikut juga, cewek sendiri ga papa hahaha. Dan ternyata Pangki batal, digantikan oleh En – en, Kunti dan Arya yang berangkat dari Solo, sementara aku, Sundul, Pono dari Magelang. Gunung Prau here we come~

Rabu, 2 Juli 2014

11.00

Setelah sejam lamanya mondar mandir di Indomaret Secang, milih jajanan ambil, balikin, dan akhirnya belanja seiprit berangkatlah aku naik bis jurusan Wonosobo – Magelang yang dinaiki Pono dan Sundul. Akhirnya berangkat juga, tadi sempat diajak kenalan orang random hahaha

13.00

Ngobrol, ketawa ngakak, sempet tepar akhirnya sampailah kami di terminal Wonosobo.

14.16

Sempat sholat dan sekian menit menunggu sampai akhirnya diputuskanlah meeting pointnya sambil jalan, di basecamp pendakian sekalian.Naik minibus, atau yang biasa disebut engkel kalo di daerahku, kami menuju Dieng ~ Sayangnya ongkos kami kemahalan, ah harusnya kan 10ribu jadi 15 ribu. Yowisla, itung – itung amal ngg

15.56

Cuaca dingin Wonosobo menyapa, perjalanan berlanjut ke Dieng dan hujan deras mengiringi kami. Oh, God why? Gimana kami nanjak nanti kalo hujannya sederas ini. Bingung, tengok ke kanan eh Sundul dan Pono tertidur dengan lelapnya. Dan aku hanya menatap kaca melihat bulir bulir hujan jatuh membasahi Dieng, tumben banget ga tidur ciyeee. Sampailah kami di kaki gunung, di depan basecamp pendakian Gunung Prau. Hello Dieng, kami turun dari engkel dengan senangnya. Itu sebelum kami melihat pengumuman di depan basecamp. PENDAKIAN GUNUNG PRAU DITUTUP SELAMA RAMADHAN! Dhuaar! Panik lah kami bertiga, ditambah En – en , Kunti dan Arya belum datang dan mereka jauh – jauh dari Solo. Ah, harus gimana ini, masa aku harus ngarang catper biar ga malu batal naik gunung? -__-”

Dan akhirnya ide konyol itu musnah setelah salah satu petugas basecamp menjelaskan situasi yang sebenanya.

” Tadi ada 4 pendaki juga dari Semarang, mbak. Mereka udah naik tadi, ya kalau kalian mau mendaki ga apa – apa tapi kami ga bertanggung jawab kalo ada apa – apa ya.” begitu kata masnya.

16.30

Datanglah En- en, Kunti dan Arya, kami bertiga sembunyi di masjid mengerjai mereka biar ngerasain panik yang sama wkwkkw maap ya. Kami bingung dan masih galau, setelah bertemu dan berunding kami berteduh ke masjid dulu.

Oiya, mas petugas ini keliatan agak keras orangnya. Bahkan dia bilang setelah ada kasus kejadian ada yang mati di Gunung Prau ini dia malah senang. -__-”

” Kemarin habis ada kejadian yang mati mbak di sini, tapi saya malah seneng jadi ga pada ngeremehin kalo mau ngedaki gunung ini.” Glekk! Kok kalimatnya gitu sih, jadi nakut nakutin, Mas.

17.12- 17.40

Menunggu hujan reda akhirnya diputuskan kita akan buka puasa di sini, makan di bawah sekalian masak untuk makan besar. Tadinya ide membuat kolak sempat akan dieksekusi, karena keburu adzan akhirnya batal dan pisang dimakan batangan tanpa dikolak hahaha. Thanks to En – en Kunthi yang menyiapkan logistik dan Pono yang membawa kurma. Selamat buka puasa..

20.08

Duduk di basecamp yang sepi, berdiskusi hingga niatan untuk ngecamp di sini pun muncul mengingat hujan yang terus menerus mengguyur. Sayang sekali karena keterbatasan waktu kami taraweh sendiri – sendiri, yang ga taraweh ya ga papa. Karena bosan di dalam, Sundul dan Pono berjalan keluar. Makan besar sudah siap, saatnya makan, sambil ngobrol dan ribut. Kata Pono dan Sundul di luar kering, udah ga ujan. Tapi suara hujan dan gemericik air masih terdengar, dan gaya mereka pun tidak berusaha meyakinkan.

” Ah ga mungkin di luar kering, ini suaranya masih kedengeran. Kita camp di sini aja.” kata Arya

” Kalo ga percaya ayo kita cek, ayo En.” kata Sundul.

Dan benar ternyata di luar hujan reda, pintu belakang basecamp dibuka. Tau itu suara air dari mana? Di belakang ternyata ada sungai. AAAAh, so embarrassing you know. Jadi dari tadi kita dengan polosnya nunggu hujan reda dan itu suara kali. Astagfirullah, ngerasa bodoh banget -___-”

21.00 – 21.30

Bismillah, bintang di langit keliatan terang, siap jalan! Kata orang – orang sih nanjak sekitar maksimal 3 jam, ada yang 1,5 jam malah. Whoaa, berarti ga susah – susah amat ya, begitu pikirku. Setengah jam jalur pendakian setelah lewat pemukiman penduduk, jalanan berbatu naik sampai lah kami di pos 1. Sementara Kunti sempat muntah karena tidak enak badan, kami istirahat sebentar.

Perjalanan dilanjutkan, gerimis pun datang. Astaga kepalaku mulai nyut – nyutan, aku berusaha untuk di barisan depan. Bukan karena sok – sokan, mental breakdown kalo aku di paling belakang apalagi kondisi lagi begini badannya, mana perut mules ya Tuhan ampuni aku.

22.15

Ada tenda! Itu camp yang 4 orang naik duluan ternyata. Alhamdulillah ada temennya, seneng banget kayanya bakal camp di sini. Ternyata mereka anak SMA baru lulus, habis daftar kuliah, habis ngerokok di tenda. Ealah dasar terong!

Sundul dan Pono naik duluan ngecek jalur, dan kami tidak berhenti untuk camp di sini, jalan masih panjang. Ah tidaaak, aku mules, gimana ini kepala pusing badan meriang, ditambah hujan, duh bang. 3 jam sampai puncak seems impossible dengan kondisi seperti ini. Kata  orang – orang jalurnya lumayan kok, bagiku ini bikin kapok semacam dihajar hujan dan medan yang licin berlumpur.

23.30

Arya dan Sundul naik duluan sampai puncak sementara Pono ditinggal dengan tiga cewek di belakang. Ah, jalan nanjak tanpa ampun, licin, dan aku hanya bersandal. Ga nyangka jalurnya akan semenyedihkan ini. Bahkan Kunti sempat kepleset duluan, aku naik dengan merangkak tanah yang konturnya rapuh. Sempat takut merosot dan ngguling ke jurang. Kunti pasrah, tinggalin aku aja di sini aku gapapa aku pasrah katanya. Sementara aku bengong memegang senter dan sandal, ya aku nyeker sekarang dengan jubah ponco yang lumayan menyusahkan pergerakan. En – en dengan sigap menolong sementara aku menyenteri pergerakan mereka bertiga. Sambil memanggil manggil Arya dan Sundul, tetap tidak ada jawaban.

00.30

Setelah camp 4 orang tadi tak ada jalur yang terlihat manusiawi, lumpur dan licin sana sini, dilema pake sandal licin ga pake sandal kepleset. Ya Allah aku harus gimana, ketinggalan di paling belakang bikin nyaliku sempat ciut apalagi jalurnya semacam ini. Aku merayap, celana kusingkap sampe batas di atas lutut, jangan dibayangkan penampakanku kala itu, porak poranda.

Ada jalur naik yang lebih licin dari jalur tadi, Pono, En – en Kunti naik sedangkan aku ketinggalan, pusing kepala, liat ke bawah aku trauma. Mau naik kaki dua berpijak di tanah licin semua, akhirnya badan gemetar semua. Ayo Bangsal naik, cari pijakan lain. Ga bisa, kakiku nginjek yang licin semua, aku takut. Dan aku nangis kaya pecundang, ah bodoh nangis gara – gara takut liat ke bawah. Ibuuk, aku mau pulang, mau belajar TKD. Aku ga mau mati di sini, aku ga mau ditemukan sebagai pendaki yang mati karena kepleset. Pikiran aneh – aneh sempat menghampiriku, alhamdulillah aku berhasil naik dan dibantuin. Ah, aku malu, perutku makin sakit pula kenapa harus di saat menegangkan begini sih.

Kamis, 3 Juli 2014

01.38

Kabut semakin tebal, dingin semakin menusuk, ingus mulai malu malu keluar, ah ini dekat puncak berarti. Yeaay, akhirnyaaa ketemu tenda kami. Terharu akhirnya di puncak juga, penampilanku compang camping sekali astaga 😦

02.30 – 03.30

Waktu hampir waktu sahur, sebentar lah tidur, badan udah remuk redam rasanya astagaa.

04.00-04.30

Aku tetap meringkuk di tenda sementara semua orang di tenda sebelah, agak kebangetan ini dinginnya, aku kebas, pusing. Akhirnya setelah diteriaki berkali – kali aku bergabung dengan mereka untuk sahur. Sahur yang istimewa, di tengah lautan kabut puncak Gunung Prau :”) Selamat puasa ~

05.45

Karena terlalu dingin kami tidur lagi setelah Subuh, berburu sunrise pun terlupakan. Dan 4 orang itu ternyata menyusul kami ke puncak Subuh tadi. Aku keluar tenda karena kebelet pipis dan karena ocehan mereka yang ribut sih sebenanrnya =,=

Lihatlah keluar, kabut di mana – mana, seperti bukan puncak Prau. Where is the sunrise people used to see? 😦 Inilah perjalana kami, susah payah, no sunrise, dan lautan kabut lah yang kami dapat. Well, setidaknya pernah ke Prau kan ya.

10.00 – 11.00

Sempat beberapa kali keluar tenda dan kondisi masih sama, sementara adek – adek tenda sebelah turun duluan karena desperate tanpa sunrise pagi ini. Well, kalau semua orang foto di puncak Prau dengan latar belakang sunrise dan pemandangan gunung – gunung lain, kami tidak. Hampir semua foto selfie, dengan background putih kabut tentunya #tksbyePrau

12.00 – 14.00

Setelah bongkar tenda dan packing, kami trekking turun. Oiya barusan ada pendaki datang rombongan baru anak UGM. Sebenarnya kami punya sisa logistik, Pisang. Dan ga tega mau mewariskan ke mereka karena mereka datang tanpa niat camp, tanpa tenda.

Turun dengan jalur yang sama, kok rasanya beda, kok jalannya ga seseram kemarin. Aku berniat ngesot seperti masa turun Gunung Slamet hahaha. Lihatlah pemandangan dari ketinggian, subhanallah. Dan sepertinya cuaca besok akan cerah, errr.

15.30

Sampai basecamp, mandi dengan air sedingin es brrr. Beberes dan siap siap pulang setelah berburu Carica. See you Prau, semoga ini pendakian paling bikin kapok yang terakhir ya.

17.15

Terminal Wonosobo sepi, bingung naik kendaraan apa pulangnya. Sempat ada miskom karena kami beda rombongan beda bis yang dinaiki. Belum sempat pamitan ke rombongan Enen bis Magelang datang, see you aku Sundul dan Pono pulang duyuu ~

Karena perjalanan yang lumayan lama kami bertiga buka puasa di bis, subhanallah ya musafir :”) Bwahaha thanks guys paling engga ada hiburan puasa naik gunung, buka puasa di bis, naik di bangku paling belakang dengan tamparan angin dingin dan kami bertiga selimutan. Hahaha xD

20.15

Alhamdulillah ya bapakku udah jemput di pertigaan Secang, aku turun duluan. Sampai ketemu di perjalanan lain yang menyenangkan ~

Anyway, hari ini adalah 3 Juli 2014 dan aku punya puisi untuk diriku sendiri tentang hari bersejarahku ini

Sudah 13 tahun berlalu rupanya, semenjak peristiwa yang dulu memporak porandakan hidupnya.

3 Juli 2001- 3 Juli 2014

13 tahun yang lalu, dibalut perban seluruh tubuhnya seperti mumi dan terbaring di ruang pesakitan..

13 tahun berlalu, dia di puncak gunung yang diselimuti lautan kabut..

Pendakiannya diiringi hujan, tanah basah menguras energi, sahur berselimut lautan kabut dingin dan pagi hari tak didapatinya sunrise sesuai harapan..

Setidaknya tujuannya tercapai, memperingati hari bersejarahnya bukan di ranjang pesakitan rumah sakit seperti 13 tahun yang lalu..

Thanks Allah for giving me second chance to live,

I’m grateful for being alive,

In a cold and foggy place, Mount Prau 2.565 mdpl, with all my prayer and hope

A grateful one..

Anggi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s