Moving to Travelanggi.com

Hi everyone, I may be not updating more about my story here in wordpress. I get my own domain name now, please kindly move your visit from here to travelanggi.com.

I’m starting my solo trip already and have uploaded new posts there. Help me improve and kindly drop by in my new domain 🙂

 

Thanks a lot,

Travelanggi.com

Advertisements

Short Weekend Getaway to Teluk Penajam

  Hidup di kota terramai di Kalimantan dan katanya paling layak huni di Indonesia tak serta merta membuat sebagian penduduknya betah hanya berdiam diri di seputar kota, tak terkecuali untukku. Bagi yang bosan dengan kehidupan kota sekedar main ke perbatasan Balikpapan dan kota tetangga yang masih dipenuhi banyak hutan cukup menyenangkan. Sabtu pagi long weekend di bulan Maret, ajakan keluarga mbak Rahma untuk nyebrang ke Penajam lumayan membunuh kebosanan daripada harus di kosan, nge inem bersih bersih kosan, nyuci dan masak seharian.

   Kami naik mobil dari kota menuju pelabuhan penyeberangan Semayang. Menempuh perjalanan satu jam dari kota kami sampai di Kabupaten Penajam Paser Utara. Wilayah ini tak seramai Balikpapan memang, masih banyak tanah yang kosong dijual meskipun banyak yang sudah dilakukan pembangunan. Areal perkebunan sawit di Penajam cukup banyak, bahkan salah satu arealnya milik keluarga Mbak Rahma. Areal perkebunan yang masih luas di Penajam memang menjanjikan untuk dijadikan lahan bisnis. Selepas rehat sejenak seusai melewati kebun, kami mampir ke tempat teman Mas Aris (suami mbak Rahma) yang merupakan pengusaha setempat ngobrol sedikit banyak sembari Rana, Fadil dan Awan (anak – anak mbak Rahma) bermain di taman.

   Seharian kami berkeliling di Penajam, mampir di kebun sawit dan memutuskan untuk pulang ke Balikpapan tanpa menyeberang teluk lagi tapi melalui jalan darat dengan kondisi jalan “Kalimantan”. Menempuh perjalanan melalui penyeberangan sembari bercengkerama dengan anak anak mbak Rahma yang tak kenal lelah dengan perjalanan yang kami tempuh sangat menyenangkan. Dibanding harus seharian ndekem di kosan pasti lebih membosankan. Perjalanan pulang dengan jalur berbeda membuat satu persatu dari kami tumbang, kelelahan di mobil. Jalan yang kami tempuh pun kondisinya miris, ini jalan baru benar – benar jalan Kalimantan, kata mbak Rahma.

Kondisi jalan php alias pemberi harapan palsu, sebentar jalan lurus dan mulus tiba tiba ada lubang menganga di depan. Sempat mobil yang kami naiki hamper saja oleng ke samping, untung mas Aris yang menyetir sigap. Jalan yang kami tempuh selama enam jam untuk sampai ke Balikpapan tembus kawasan Hutan Bangkirai ternyata. Hari sudah berakhir, malam menjelang dan energy kami sudah habis terkuras. Terima kasih untuk cerita perjalanan baru yang ditempuh weekend ini, seru tapi jangan sering sering ya ketemu jalan begini.

Hope to get another interesting stories.

See ya,

Anggi

Gerhana Matahari Total di Langit Balikpapan

   Gerhana Matahari Total, fenomena langka yang dapat disaksikan 350 tahun sekali ini menjadi momen spesial untuk warga dunia, terlebih warga Indonesia yang sebagian wilayahnya dilewati garis utama gerhana. Gerhana matahari total terjadi ketika bulan berada tepat di antara matahari dan bumi, sehingga seluruh permukaan bumi akan mengalami gelap sesaat. Beruntung bagi sebagian daerah di Indonesia yang menjadi lokasi untuk menyaksikan gerhana total ini. Dari zona WIB ada Palembang, Bangka Belitung, sementara zona WITA ada Balikpapan, Palu, dan ada pula Ternate. Alhamdulillahnya tinggal di salah satu lokasi terbaik untuk menyaksikan gerhana.

   Penempatan jauh di Balikpapan tak masalah, memang rejeki ya bisa menangkap momen 350 tahun sekali tanpa harus meluangkan waktu pergi ke sana sini mencari spot terbaik. Rabu pagi setelah semalaman susah tidur, aku dan dua temanku bergabung di kerumuman orang yang bersiap menuju venue untuk melihat gerhana. Di Balikpapan fenomena gerhana matahari total ini dijadikan penarik datangnya wisatawan dan dipusatkan di dua tempat, di Pantai Manggar dengan tambahan hiburan lomba perahu Naganya dan di Pantai Banua Patra dekat Lapangan Merdeka dengan suguhan kuliner dan wisata budayanya. Aku lebih memilih Lapangan Merdeka untuk menangkap momen langka ini, bermodalkan kaca fiberglass yang konon katanya buatan German seharga 20ribu perak ini alhamdulillah momen momen gerhana yang terjadi bisa ditangkap mata. Subhanallah bagus 😀

Dari kaca fiber glass, kacamata hitam alay, teropong buatan rombongan dari Boscha Lembang, sampai menggunakan label aqua kami coba. Hasilnya bervariasi, luar biasa ya, momen langka ini so far so good to see. Menurut perkiraan, tahun depan akan terlihat gerhana di belahan bumi  lainnya, tepatnya bulan Agustus 2017 di Amerika. Siapa tahu bisa ke sana tahun depan, bismillah ya.

Total eclipse is awesome to see, but it’s more awesome when you become a human who’s grateful for the life you’re living.

Cheers,

Restiananggi

The Hostels I slept in Singapore

   Pergi sendiri dan nemu travelmate adalah pengalaman yang menyenangkan untuk dialami di negeri tetangga. Berawal dari kenekatan pergi yang Cuma pesan hostel semalam dan marathon ke hostel lain untuk dua malam berikutnya Alhamdulillah hasilnya menyenangkan nggak menyenangkan sih, setiap hostel punya plus dan minusnya sendiri dan dari tiga hostel punya kesannya sendiri.

  1. 5Footway Inn Hostel Chinatown

Hostel pertama yang kuinapi adalah 5 Footway Inn di Chinatown, lokasinya cukup strategis, jalan tak begitu jauh dari Chinatown MRT Station. Dengan harga sewa $19 untuk kamar dorm sebanyak enam orang, ruangan yang cukup nyaman dengan lampu individu di setiap bed dan colokan di samping tempat tidur cukup sebanding dengan harga yang dipatok. Fasilitas bersama yang bisa digunakan adalah kamar mandi dan ruang makan yang dibuat nyaman untuk sekedar ngopi ngopi cantik di malam hari. Tarif menginap semalam di hostel ini sudah termasuk sarapan berupa sereal, roti dan apel. Cukup menyenangkan kan?

  1. 5Footway Inn Aliwal Street near Sultan Mosque

Setelah check out dari hostel cabang Chinatown, aku beralih ke 5 Fottway Inn yang lain di sekitaran kawasan Bugis. Terletak di Aliwal Street, konsep 5Footway Inn di Aliwal lebih asik daripada di Chinatown. Sayangnya sih satu, karena kamarku jauh di lantai 3 dan tempat ngopi ngopi serta sarapan, serta toilet semuanya di lantai dua jadi cukup lumayan bikin mager turun apalagi waktu malas keluar kamar untuk sekedar ke toilet.

   

Plusnya hostel ini adalah lokasinya yang berada di kawasan yang dekat dengan Arab Street dan Bugis membuat banyak spot wisata bisa kukunjungi. Sebenarnya karena lebih feel homey sih. Overall ini hostel favourite ku dari ketiga tempat yang kuinapi.

  1. ABC Hostel in Jalan Kubor

Hostel ini tak jauh letaknya dari hostel kedua yang kuinapi. Karena dekat juga dan lokasinya yang strategis, menginap di ABC harusnya menyenangkan. Untuk fasilitas 5 footway menang telak. Tapi untuk colokan charger hostel ini tak menyusahkan kita yang datang dari Negara bercolokan dua lubang. Tak perlu repot repot membawa adaptor.

Minus tinggal di sini adalah aku dapat kamar dorm berisi 10 orang dan sebagian besar tukang ngorok berat. Dorm yang kudapat memang campur, jadi untuk tidur ya seperti di hostel sebelumnya aku berjilbab kemanapun pergi. Sayang sekali pengalamanku yang seharusnya menyenangkan menjadi buruk menginap di sini karena roommate yang ngorok. Bahkan uang deposit ku hangus karena sempat kehilangan kunci.

Itulah tiga hostel berbeda yang menjadi tempatku menginap selama solo trip ke Singapore. Terlepas dari nyaman atau tidaknya tinggal di sebuah hostel, itu tergantung selera. Happy travelling everyone ~

Singapore Birthday Runaway Trip

Long time no posting, hai saya kembali lagi kali ini untuk share pengalaman solo trip 11-14 Februari lalu ke Singapore yang dilanjut Batam. Sebenarnya rencana awal saya adalah ke Turki, tapi karena kasus bom yang sempat terjadi di Istanbul rencana trip itu saya urungkan dan akhirnya solo trip ini saya mulai di Singapore.

Persiapan

Tiket

Paspor saya nganggur dua tahun setelah dibuat, karena kebanyakan rencana dan belum jalan juga akhirnya tahun ini saya pergi sendiri bertepatan dengan momen ulang tahun, itung – itung birthday solo trip, belajar banyak hal dengan pergi sendiri. Karena memilih berangkat melalui Jakarta secara random saya mampir dari Balikpapan ke Jakarta dan naik Air Asia seharga 320ribu ke Singapore walaupun bukan tiket promo. Untuk kembali ke Indonesianya saya memilih menyeberang dengan ferry menuju Batam dengan tiket seharga $25. Setelah sebelumnya membeli tiket secara random tanpa melihat kalender berangkatlah saya ke Singapore seorang diri, itung – itung ngelatih mental karena rencana pergi ke Turki saya batalkan. Tiket seharga 320ribu AirAsia membawa saya ke Singapura, sebelumnya saya berangkat dari Balikpapan ke Jakarta untuk mampir ke tempat teman.

Penginapan dan Akomodasi

Hostel saya pesan dari Traveloka untuk satu malam, dua malam berikutnya saya marathon berganti tempat, harga permalam $19. Dari tiga hostel yang saya tempati (5footway inn Chinatown, 5footway inn Aliwal Street dan ABC Hostel di Jalan Kubor) yang paling recommended dan nyaman adalah 5footway inn di Aliwal Street.

Untuk transportasi saya memakai Ez Link yang bisa ditop up dengan mesin otomatis, karena dapat pinjaman dari teman saya cukup keluar uang untuk top up $10, sesekali naik taksi karena mendesak, dan perbanyak jalan kaki ke mana mana.

Itinerary

Day 1 (Kamis, 11 Februari 2016)

Jakarta – Singapore

  1. Changi Airport

 Karena tiket yang saya pesan random dan jadwal penerbangannya siang menuju sore, sampailah saya terlalu sore di Singapore. Sebagai solo traveler bingung di awal itu pasti, memutar – mutari area Changi yang luas sekitar lebih dari sejam akhirnya saya mendapatkan kartu Singtel seharga $15 yang bisa langsung diaktifkan untuk komunikasi selama di sana. Selain itu saya melakukan top up kartu Ez link untuk keperluan transportasi selama di Singapore.

  1. Chinatown dan Riverside

MRT : Chinatown Station

Sampai hostel cukup malam dan dapat travelmate baru kenalan orang Indonesia juga, lumayan ada teman jalan malam ini. Kami jalan kaki keliling Chinatown dan sepanjang river, suasana malam di kota beda jauh jika dibandingkan Jakarta ya, aman banget untuk jalan. Istirahat di hostel untuk hari berikutnya

12734079_10205944475270985_7395220577962570533_n

Day 2 (Jumat, 12 Februari 2016)

  1. Garden By The Bay, Esplanade, Merlion

MRT : Bayfront Station

12734264_10205944476031004_5289728688357080712_n

Rencana pergi ke Garden By the Bay di pagi hari nampaknya tak terlalu baik tapi juga tak terlalu buruk. Memang tak ada pertunjukan garden rhapsody yang indah tapi udara di pagi hari masih cukup sejuk dan sepi pengunjung, puas berkeliling objek ini. Saya berkeliling sekitaran kawasan ini, berjalan kaki sampai Merlion dan Esplanade bareng travelmate baru saya, Bryan. Demi mengejar waktu check out sebelum jam 12 dan pindah hostel kami sempat naik taksi waktu berangkat ke Garden By The Bay. Lumayan untuk pindah lokasi selanjutnya kami jalan kaki cukup jauh ke Merlion Park yang mulai ramai pengunjung.

  1. Keliling sekitaran Aliwal dan Arab Street, Mustafa Center

MRT : Nicole Highway Station

Check out sebelum jam 12, pindah ke hostel lain di Aliwal Street naik MRT cukup lumayan, kami sampai di hostel baru untuk titip barang. Kami berkeliling untuk makan siang dan mengunjungi jalan – jalan dekat hostel yang sudah ramai pengunjung.  Hujan deras mengguyur cukup lama sehingga waktu sekitar dua jam tidak bisa kumanfaatkan untuk keluar. Menjelang waktu magrib hujan reda, atas rekomendasi teman dan juga karena ada janjian dengan teman baru akhirnya saya kembali ke Garden By The Bay.

Untuk makan siang, Bryan makan pork sementara saya makan makanan India halal dengan menu nasi briyani seharga $5 yang porsinya membuat saya kapok saking banyaknya.

12718165_10205944484151207_7962173638072520496_n12742741_10205944481151132_3799211948831826329_n12744753_10205944475110981_1583915948906327017_n

  1. Garden By The Bay

Bayfront Station

Dapat teman baru orang Jepang yang hobi jalan kaki dan suka ngobrol nyambunglah obrolan kami dan berlanjut jalan bareng, sambil menunggu Garden Rhapsody mulai, aku Bryan dan Shin (si Jepang) berkeliling taman. Ternyata benar apa kata orang – orang, Garden Rhapsody bagus disaksikan malam hari, tak sia – sia kembali ke sini. Meskipun sebelumnya hujan deras sempat mengguyur dan masih ada rintik – rintik hujan turun, it was nice afterall. Harmoni pertunjukan lampu – lampu warna warni diiringi music yang mengalun membuat kunjungan kedua ku ke sini lebih berkesan daripada tadi pagi.

1915224_10205944476551017_5836449476335999463_n

12743655_10205944483191183_178018961610665613_n

12744611_10205944484951227_343969158719120775_n

  1. Bugis Street

Bugis Station

Bryan memisahkan diri karena sudah tak sanggup jalan jauh, saya dan Shin melanjutkan perjalanan ke sekitaran Bugis Street, bukan untuk belanja tapi benar – benar jalan kaki dan melihat banyak tempat baru. Kami sempat menonton sebuah atraksi yang diadakan di depan bar di dekat Bugis. Banyak muda mudi yang berjalan di sekitar kawasan itu. Suasana sekitar Bugis, Arab Street dan sekitarnya di malam hari lebih bagus dan hidup ternyata. Karena tak terlalu suka keramaian orang berbelanja di Bugis, kami malah menemukan pemandangan tempat lain yang lebih bagus disaksikan ketika malam hari.

Day 3 (Sabtu, 13 Februari 2016)

  1. Malay Heritage , Sultan Mosque dan sekitarnya

Nichole Highway Station

Karena selalu berganti hostel dalam perjalanan ini, saya memutuskan untuk berkeliling objek di sekitaran hostel. Sendirian berjalan – jalan di sela kerumunan turis yang mengunjungi Malay Heritage kemudian berpindah ke Masjid Sultan untuk melihat lihat dan numpang sholat sekalian. Memang pemandangan di jalan – jalan sekitar sini berbeda jika dilhat pada waktu siang dan malam.

12745475_10205944478271060_5420809510989031677_n

  1. Sentosa Island

Harbour Front Station

Setelah check out dari hostel dan pindah ke hostel berikutnya yaitu ABC hostel di Jalan Kubor, saya melanjutkan perjalanan hari ini ke Sentosa Island, cuma pengen melihat lihat dan foto di depan globe USS sih sebenarnya. Naik MRT dari Bugis Station dan turun di Harbour Front, saya lanjut sampai Sentosa dengan berjalan kaki. Lumayan selama di Singapore jalan kemana mana tak terasa jauh, malah menyenangkan karena sebenarnya saya suka jalan kaki dan kekurangan tempat pejalan kaki yang aman di negeri sendiri.

10298876_10205944478111056_2109836262235422062_n

10464352_10205944482031154_5738743494416392420_n

734847_10205944479271085_3803811828678713607_n

Makan siang saya memilih menu nasi lemak dengan sambal petai seharga $4, lumayan enak dan mengenyangkan. Walaupun di Singapore makan pete ndak apa apa lah.

12742519_10205944475871000_4862986595803650401_n

  1. Singapore Botanical Garden

Botanical Garden Station

Setelah kelelahan mengejar waktu ke Sentosa, saya dan Bryan ke Botanical Garden dan berpisah jalan. Berkeliling botanical garden ini, duduk duduk, tiduran di rumput layaknya pengunjung lain sangat pas untuk piknik keluarga. Sayang sih, solo trip, mungkin next time.

10632666_10205944481071130_8781355895848386969_n

  1. Masjid Baalwie

Mencari tempat sholat di objek wisata cukup susah, saya naik bus sebentar kemudian jalan memutar menuju Lewis Street di mana masjid yang saya kunjungi berada. Tempat wudhu nya bagus, banyak bukti sejarah masjid Baalwie terpampang di setiap sudutnya. Lumayan belajar sejarah Islam di sini. Sayangnya pengunjung masjid cukup sepi.

  1. Ngopi di Atlas Coffee

Sekalian mampir ke apartemennya untuk numpang magriban, saya dan si Jepang ngopi di Atlas Coffee. Review tempat ini cukup bagus, aroma kopi dan rasanya yang enak membuat tempat ini tak pernah sepi. Rata – rata kopi di sini dihargai $4 setiap cup nya. Lumayan untuk sekedar menikmati sore melihat pemandangan di depan kedai yang hijau asri.

  1. Hajj Lane, Bugis Street

Dari apartemen si Jepang, berjalan keliling dan akhirnya saya memutuskan untuk membeli beberapa barang berkeliling Bugis Street dimana orang ramai berbelanja. Kebetulan saya tak terlalu banyak belanja karena memang niatnya backpackeran, hanya beberapa kaos kembaran dengan adek dan beberapa cemilan oleh – oleh. Yang penting muat di tas, ya namanya juga backpackeran bukan mau kulakan.

Day 4 (Minggu, 14 Februari 2016)

Checkout

Kembali ke hostel dan tak bisa tidur sepanjang malam karena dapat roommate di dorm ini yang semuanya ngorok tanpa henti membuat rencana saya hari berikutnya nyaris berantakan. Lumayan hari ini uang deposit saya hangus karena menghilangkan kunci kamar. Saya anggap itu jadi bagian dari cerita perjalanan ini.

Perjalanan saya lanjutkan ke Batam dengan menyebrang menggunakan kapal ferry, semoga akan ada lain kali untuk ke sini karena saya belum ke Orchard Road dan Little India yang terpaksa saya skip.

12743783_10205944478671070_1824716725974824509_n

   Overall, solo trip menyenangkan untuk dilakukan. Siapa bilang cewek ga bisa bepergian kemana mana sendiri, yang penting niat yang kuat dan adanya eksekusi. Kalau ga diawali dengan beli tiket secara random mungkin saya ga pergi – pergi, kalau selalu memberi opsi orang lain untuk mengubah rencana perjalanan maju atau mundur mana mungkin saya jadi berangkat.

Akan ada kalanya di mana kita ingin pergi dan tak ingin orang lain mengatur perjalanan kita, banyak hal yang didapatkan dari bepergian sendiri, mengenal banyak orang baru, pengalaman seru kesasar dan harus bertanya pada orang tak dikenal, kebablasan naik MRT dan banyak hal seru yang tak diduga terjadi.

Terimakasih Singapore, birthday solo trip yang menyenangkan akan membawaku ke trip trip selanjutnya yang tak kalah berkesan dan menyenangkan. Mungkin solo trip ke Turki, Korea atau Eropa tahun depan, aminn.

Singapore Budget and Itinerary (all in include Batam)

Persiapan

Tiket

Pasporku nganggur dua tahun setelah dibuat, karena kebanyakan rencana dan belum jalan juga akhirnya tahun ini aku pergi sendiri bertepatan dengan momen ulang tahun, itung – itung birthday solo trip, belajar banyak hal dengan pergi sendiri. Karena memilih berangkat melalui Jakarta secara random aku mampir dari Balikpapan ke Jakarta dan naik Air Asia seharga 320ribu ke Singapore walaupun bukan tiket promo. Untuk kembali ke Indonesianya aku memilih menyeberang dengan ferry menuju Batam dengan tiket seharga $25. Setelah sebelumnya membeli tiket secara random tanpa melihat kalender berangkatlah aku ke Singapore seorang diri, itung – itung ngelatih mental karena rencana pergi ke Turki kubatalkan. Tiket seharga 320ribu AirAsia membawaku ke Singapura, setelah sebelumnya berangkat dari Balikpapan ke Jakarta untuk mampir ke tempat teman.

 

Penginapan dan Akomodasi

Hostel kupesan dari Traveloka untuk satu malam, dua malam berikutnya marathon berganti tempat, harga permalam $19. Dari tiga hostel yang ku tempati (5footway inn Chinatown, 5footway inn Aliwal Street dan ABC Hostel di Jalan Kubor) yang paling recommended dan nyaman adalah 5footway inn di Aliwal Street.

Untuk transportasi aku memakai Ez Link yang bisa ditop up dengan mesin otomatis, karena dapat pinjaman dari teman cukup keluar uang untuk top up $10, sesekali naik taksi karena mendesak, dan perbanyak jalan kaki ke mana mana.

Day 1 ( The Coming)

Thursday, February 11th 2016 Kegiatan Jenis Expense Total Money Spent
11.30 – 12.30 Naik Damri dari Rawamangun ke Soekarno Hatta Intrl Airport ·  Biaya prepare (beli perlengkapan pribadi, adaptor, vitamin dll)

·  Naik Bus Damri ke Rawamangun, Rawamangun – Soetta

·   Expense makan dan akomodasi gojek

Rp 157.500

Rp    80.000

 

 

Rp    55.000

13.00 Check in, wait for the boarding time
14.50 – 17.20 Flight to Singapore Jajan Share Tea Rp    30.000
17.20 – 18.40 Changi Airport, get lost, buy simcard and ez link ·   Singtel SIMcard

·    Ez link top up card

$ 15

$ 10

18.40 – 21.00 Going to Chinatown, walk around station
21.00 – 21.30 Check in at 5 Footway inn Hostel, take a bath Hostel $19,9
21.30 – 23.30 Walking around Chinatown, eat, go to Riverside view Dinner snack $3
23.30 – Coffetime, plan
Total Expense $ 47, 9

Rp 322.500

Day 2

Friday, February 12th 2016 Activities Expense Total Money Spent
06.00 – 07.30 Pray, prepare and having breakfast Taxi fare $ 4
07.30 – 10.30 Gardens By The Bay, Merlion Taxi $ 4,15
10.30 Go back to hostel
11.30 Check out, moving to next hostel
12.30 – 15.30 Drop baggage, walk around Bugis, lunch Lunch and snack $ 6
15.30 – 18.00 Check in at 5 Footway In Aliwal St, rest, rain hard outside Hostel $19,5 $ 19,5
18.00 – 21.30 Walking around Garden By The Bay, watching the garden rhapsody, meet up Dinner snack $ 2
21.30 – 23.30 Going to Bugis, Arab Street dll
23.30 Goodnight coffee
Total Expense $35,65

Day 3

Saturday, February 13th 2016 Activities Expense Total Money Spent
06.00 – 08.30 Pray, breakfast, clean up
08.30 – 10.30 Walk around Malay Heritage Center, Arab Street, Mustafa dll
11.30 – 12.30 Check out, moving to ABC Hostel Hostel $ 19
12.30 – 14.30 Going to Sentosa Island, taking pics at Universal Studio · Lunch

·  Top up ez link

$ 5

$ 10

15.00 -17.00 Singapore Botanical Garden
17.00 – 18.00 Atlas Coffeshop, meet up Capuccino $ 4
18.00 – 21.00 Walk around, pray, going back to Bugis Dinner $ 4
21.00 – 23.00 Bugis street , Bugis area Shop $ 25
23.00 – 03.00 Cant sleep
Total Expense $ 67

Day 4

Sunday, February 14th 2016 Activities Expense Total Money Spent
09.00 Check out Lost key $ 10
12.00 Harbour Front Ferry ticket $ 25
12.30 – 13.15 Off to Batam
13.15 – 17.00 Touring motor keliling Batam ( Kampung Vietnam, Jembatan Barelang) Makan, snack Rp 50.000
17.00 – 18.00 Kepri Mall
Total Expense $ 35

Rp 50.000

Day 5

20.30 Off to Balikpapan ·         Ticket

·         Snack

Rp 670.000

Rp    40.000

Total Expense Rp 710.000

Total Expense

Tiket Balikpapan – Jakarta                            Rp  700.000

Tiket Jakarta – Singapore                              Rp  320.000

Day 1 ++                                                                Rp  801.500

Day 2                                                                     Rp  356.500

Day 3                                                                     Rp  670.000

Day 4                                                                     Rp  400.000

Day 5     To Balikpapan                                     Rp  710.000

Grand Total                                                         Rp 3.957.000

 

Discover Rammang – Rammang

   Sebuah tempat wisata yang terletak di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan ini mulai ramai dan dikenal wisatawan. Pesona  karst Maros masih menjadi salah satu daya tariknya, ditambah keunikan perjalanan menuju Kampung Banua yang masih asri dan harus ditempuh menggunakan perahu perahu kecil untuk menyeberang sungai membuatnya kian melejit sebagai salah satu tujuan wisata di sekitaran Makassar. Berwaktu tempuh hanya satu jam dari kota Makassar dan lokasinya yang mudah diakses, Rammang – Rammang mulai bersolek di mata pariwisata Makassar. Akhir bulan lalu, aku dan teman – teman kuliahku berwisata keliling , Makassar, Maros, dan Pare – Pare dengan berkedok kondangan. Alasan kami datang ke Pulau Sulawesi adalah kondangan, sedangkan alasan sampingan yang utama adalah untuk ngetrip dan mengeksplor tempat wisata di kawasan tersebut. Dan Rammang – Rammang adalah yang paling mengesankan karena kami dua kali datang ke objek wisata ini dan berhasil naik perahu di kesempatan kedua setelah hari pertama gagal karena hari sudah gelap ketika kami tiba.

 

    Kebanyakan tempat wisata di sekitar Makassar Maros memiliki nama yang berulang, seperti Rammang – Rammang. Kami menyewa satu kapal untuk berdelapan, duduk dengan rapi sambil menikmati pemandangan sekitar sementara pemandu kami sibuk mendayung dan menjelaskan perihal objek wisata ini. Hamparan rawa yang kami lewati aman karena tidak ada buaya di kawasan ini, unlike Borneo dudes ~ Di kanan kiri bisa kita lihar jajaran pepohonan berderet rapi, sedangkan sejauh mata memandang bisa kita lihat kokohnya perbukitan karst berdiri. Subhanallah, lukisan alam yang menyejukkan mata

Kami tiba di daratan di mana terdapat sebuah kampung bernama Berua yang biasa digunakan untuk singgah para wisatawan yang berkunjung. Kami berhenti sejenak untuk sholat dan berfoto. Di gubug dekat mushola terlihat jajaran foto yang memperlihatkan animo pengunjung yang memposting gambar mereka di tempat wisata ini dan turut serta memperkenalkan Rammang – Rammang ke khalayak ramai. One of the advantages of having social media, you could show the people how good the place is.

Hujan mulai turun ketika kami berjalan di persawahan, move move guys. Hujan semakin deras mengguyur ketika kami sampai di dermaga. Alhamdulillah kami tak terlalu basah kuyup karena hujan. Untunglah drama nyaris gagalnya trip ke Rammang – Rammang berujung gembira. Saatnya aku dan satu kawanku yang juga bekerja di Kalimantan mengejar waktu penerbangan kami yang tinggal sejam lagi. Untungnya penerbangan delay setelah kami terjebak macet di jalanan ibukota (Sulsel). Di sinilah hikmah delay yang kami alami membawa rejeki sehingga kami bisa sampai tepat sebelum pesawat boarding.

Sampai jumpa Sulawesi, nice to explore you, till we meet again. Be wonderful as always ~

Mencari Jejak Prasejarah di Situs Leang – Leang, Maros

   Maros memang terkenal dengan keindahan karst perbukitannya dan sudah tersohor di tanah air bahkan mancanegara. Namun pesona yang dimiliki Maros tak hanya sekedar perbukitan karst, ada situs Prasejarah Leang – Leang yang menyimpan banyak cerita sejarah masa lampau. Terletak di Kecamatan Bantimurung membuat jarak tempuhnya tak terlampau jauh dari bandara, empat puluh lima menit perjalanan yang rombonganku butuhkan untuk sampai ke situs Leang – Leang minggu lalu. Aku dan geng kondangan STAPALA goes to nikahan Kak Palpi dan Gamping menuju lokasi ini dengan tim yang tak lengkap karena separo geng nyusul datang malam. Penyewaan mobil tersedia cukup banyak, jadi akses kami selangkah lebih dipermudah. Pemandangan sawah hijau menghampar ditambah pemandangan bebukitan karst yang semakin membuat situs ini memesona.

   Untuk bisa masuk ke situs ini kami membayar tiket masuk dan menyewa guide agar lebih memahami cerita situs ini. Jalan menuju goa cukup licin, ditambah dengan tetesan air yang konon katanya tetap menetes seperti hujan gerimis sepanjang beberapa bulan dalam setahun membuat kami sebagai pengunjung harus ekstra hati – hati. Meleng sedikit kita bisa terpeleset jatuh. Kebetulan waktu itu sehabis hujan, air sungai di Leang – Leang yang biasanya jernih tak sejernih biasanya. Namun semuanya terlupakan manakala kami menatap pemandangan potret lukisan alam berwarna hijau dan juga hamparan bebatuan berserak yang terbentuk oleh alam.

  

   

   Kami dibawa oleh pemandu kami menuju goa dimana lukisan tangan Situs Leang – Leang berada. Leang yang dalam Bahasa setempat berarti goa menjadi daya tarik utama di situs ini, terdapat lukisan tangan manusia dan juga bentuk menyerupai babirusa di dinding dinding goa. Sebelum ditemukannya lukisan bukti peradaban prasejarah manusia yang pernah menghuni goa – goa tersebut Leang – Leang hanyalah desa kecil yang sepi dan gersang. Kini setelah mulai tersentuh pembangunan di bidang budaya, Situs Leang – Leang menjelma menjadi salah satu destinasi wisata budaya yang dituju banyak wisatawan tak hanya dalam negeri tetapi juga mancanegara. Tak akan pernah membosankan dan tak cukup berkunjung ke situs ini hanya sekali.

Travel more, learn more, deal with people and places more, and live happily,

Kiss,

Anggi R. Dewi

 

Matantimali Paralayang, Menikmati Kota Palu dari Ketinggian

Paralayang, adalah salah satu olahraga yang menantang adrenaline dan dilakukan dari ketinggian. Sedangkan ketinggian adalah salah satu phobia terbesar yang ku punya, nyali langsung melempem apalagi jika olahraga berkaitan dengan ketinggian. Tapi itu semua berubah manakala aku benar – benar dapat kesempatan mencoba olahraga satu ini.

Salah satu destinasi tujuan kami (aku dan geng ngetrip) dalam trip Palu Donggala kemarin adalah Matantimali, which is lokasi paralayang dan tempat kita melihat pemandangan dari ketinggian. Sempat pengen ga pengen untuk paralayang dan akhirnya kami sampai di spot take off mau tak mau aku tergiur juga untuk mencoba. Sedikit lebay karena sudah mempersiapkan seandainya di ketinggian terjadi hal – hal terburuk aku sudah siap, demi menuntaskan rasa penasaran . Rasanya mubazir sudah menempuh jalanan yang sedemikian rupa tapi tak mencoba olahraganya sekalipun. Terimakasih teman temin yang sudah rela menunggu kami yang berparalayang ria ini. I love you to the moon and back!

   Dengan banderol harga 400 ribu per orang untuk durasi terbang 10-20 menit tak apalah, demi sebuah pengalaman baru. Untuk amatir dan newbie seperti kami, tandem selama paralayang adalah keharusan. Tandem atau pemandu terbang inilah yang akan mengendalikan parasut sementara kita penumpangnya plongah plongoh takjub menatap pemandangan dari ketinggian. Penerbang parasut yang kunaiki ini adalah atlet paralayang, pengalamannya sudah menjelajah banyak pulau di Indonesia. Katanya si abang ini juga takut ketinggian, tapi dengan kita percaya sama alat percaya deh penerbangan parasut aman.

Setelah memasang alat safety dan melilitkan go pro di tangan kiri, waktunya tandem paralayang berlari. Diiringi teriakan takut, excited dan parno di ketinggian parasut kami melesat. Yey, waktunya menikmati Palu dari ketinggian, subhanallah bahagianya melihat pemandangan semacam ini walaupun cuma sekian menit saja lumayan. Terlihat karpet hijau pepohonan dari ketinggian, pemandangan kota dan garis pantainya. Berkali kali parasut yang kunaiki dimanuver sampai suara habis untuk teriak. Walaupun pandangan agak nggliyeng karena memang takut ketinggian, overall I really enjoy this sport. Parasut mendarat, sedikit nyusruk sih karena aku lupa berdiri di lapangan. But well, I’m the happiest ~

Batal dan hanya wacana paralayang di Puncak, keturutannya waktu sudah nyebrang pulau. Semoga akan selalu ada lain kali untuk melihat pemandangan berayun ayun di ketinggian.

Sampai ketemu di paralayang ke depan ~

Diaminin saja ya, semoga phobia ketinggiannya cepat sembuh.

Cheers,

Anggi Restiana D

Palu – Donggala Trip Part 2 ( Snorkeling at Tanjung Karang, Matantimali Paralayang & City Explore)

Sabtu, 2 Januari 2016

04.30 – 07.00

Bangun pagi tak menjamin semua orang langsung bangun sadar sepenuhnya apalagi setelah sholat subuh. Ditambah karena angin yang sudah menghilang lewat tengah malam keinginan untuk tidur lagi semakin besar. Tapi itu tak berlaku untukku. Selagi yang lain tidur aku memilih untuk menunggu matahari terbit yang akhirnya mengecewakan dan aku hanya buang buang waktu sedikit sambil nyicil mencatat perjalanan.

Janjian snorkeling jam 7 pagi sepertinya mustahil untuk dilakukan tepat waktu and my feeling was right. Bapake yang menyewakan kapalnya belum datang karena sarapan dulu. Sementara aku ngeyel tak usah sarapan, Arum dan Icang pergi beli sarapan untuk kami semua.

07.00 – 08.00

Selagi menunggu sarapan datang, kami berempat nyicil ganti baju untuk berbasah basahan. Terimakasih Arum dan Icang, untung lah kami sarapan. Bisa kelaparan luar biasa inimah nantinya.

08.00 – 10.00

Kapal yang kami sewa datang, dipandu bapak nelayan setempat dan putranya yang sedang libur sekolah kami dibawa ke dua spot terbaik untuk snorkeling. Spot pertama kami di dekat cottage Prince John milik warga asing yang menikah dengan warkamsi (warga kampung sini). Laut yang tenang dan warnanya yang mulai membiru membuat kami bersemangat untuk segera nyebur dan bercengkrama dengan ikan – ikan laut yang lucu.

Well, walaupun sudah berlatih menggunakan alat snorkeling ternyata tak menjamin air laut tak menyelinap masuk membuatku tersedak. I’m such an amateur seriously. First time snorkeling, bahagianya luar biasa melihat ikan ikan laut mengerubuti pakan yang kami bawa. Ukuran lifejacket yang kebesaran membuat posisiku di air tak terlalu nyaman, tak hanya tersedak taapi posisi badanku berputar putar tak karuan. Walaupun hanya kecipak kecipik sempat membuatku kewalahan, ditambah masih trauma di air dalam membuatku berusaha menggapai gapai yang lain mencari pegangan.

B Pro action cam yang kami bawa kehabisan baterai karena terlalu lama terpakai tanpa sengaja, sempat jadi  rebutan dan foto kami di air agak kacaunya keterlaluan. Hanya beberapa jepret foto bersama dan blur sebagiannya. Untung Icang sempat mengabadikan gambar ikan – ikan dan beberapa jepretan foto yang lumayan. Maafkan aku yang kebanyakan memegang kamera tapi mubadzir menggunakannya karena sibuk keselek air. Kami pindah ke spot yang lebih ke tengah laut, warna biru tosca terhampar luar dan gelombangnya lebih banyak daripada spot Prince John. Sebagian kami turun hanya sebentar, berenang tak terlalu jauh karena gelombang mengombang ambing kami agak ke tengah, kan capek ya mau renang kesana sana. Sementara Ismul dan Dika berenang kejauhan dan jauh dari kapal. Tinggalin aja lah yuk ~

10.00 – 11.00

Puas nggak puas sih main air pas snorkeling, kami masih malas beranjak dari air. Dan akhirnya banana boat adalah pemuas hasrat main air kami yang selanjutnya. Berteriak sekencang kencangnya karena ketakutan yang luar biasa memberi kesan lain setiap naik banana boat. Setelah berputar berputar beberapa kali kami dibanting dan tersedak air lagi. Sudah jatuh, keselek air, ketimpa pantat tetangga pula, namanya juga banana boat ~ Lumayan hari semakin siang dan kulit kami sudah menghitam legam.

11.00 – 12.40

Bergantian giliran untuk mandi setelah puas bermain air, kami beres – beres cottage yang sudah seperti kandang dan bersiap untuk meninggalkan Tanjung Karang. Sampai ketemu lagi Donggala, siap mengejar itinerary mengunjungi objek berikutnya. Perut keroncongan ga karuan, waktunya berburu kaledo, makanan khas Donggala yang katanya khas dan banyak diburu.

12.40 – 15.30

Perjalanan berburu makan tak terlalu banyak obrolan yang keluar dari mulut kami, mungkin karena sudah kelewat lapar dan lelah, mau bercanda saja malas. Jadilah perjalanan berburu makan siang kami sedikit lebih hening dari biasanya. Ada banyak sumber yang menyebutkan Kaledo Loli adalah yang terlegendaris dan laris. Awalnya sempat ragu karena kedai sepi, ternyata karena si empunya tempat makan masih masak dan kedai belum buka.

Kedai tak kunjung buka kami memilih sholat di masjid terdekat, dan sekembalinya kami ke kedai lima mobil sudah berjajar rapi di dekat mobil kami. Howlyyyy dan antrian sudah sepanjang ini,hmm sabar ga sabar sih. Pengen kaledo sumsum yang makannya pake sedotan ternyata kami salah pesanan, yasudahlahyaa daripada ga makan perut inda tahan kalau disuruh nunggu lagi.

Panas panas mengepul karena baru matang kaledo kami siap disantap, selamat makan ~ (tulisan tentang kaledo bakal dibahas di tulisan berikutnya hehehe) Be aware of the colestrol in your blood, dudes ~

15.30 – 17.00

Kenyang berkaledo ria, sekarang waktunya kami kembali ke kota biar bisa nginap di gueat house yang kami inapi waktu malam pertama datang. Yeaay, ternyata Palu Donggala tak sejauh yang kami kira. Namanya udah hapal jalan sama awal masih meraba raba peta pasti beda lah ya.

By the way karena itinerary tidak fix seperti rencana awal kami berputar arah mencari oleh – oleh khas Palu. Kami berhenti di Toko Diana, yang penting asli Palu ya gaes.

Dan makanan khas setiap orang berkunjung ke Palu ternyata memang bawang goring, kata orang Palu bawang goreng mereka bisa langsung dicemil. Tapi namanya tetep bawang ya gimana gitu, bahkan temen yang mau dibeliin oleh – oleh pake acara ngece dulu karena mau takbeliin bawang. Yowis ga sido wis rek ~ Aku ngoleh olehin orang kantor sama anak kosan aja

17.00 – 19.00

Beli oleh – oleh udah, waktunya sejenak istirahat (buat yang istirahat) dan lanjut main main air buat yang masih belum puas nyebur di laut. Dika tidur di kamar sementara mbak Resti mainan hp, empat yang lain jelas langsung nyebur kolam. Beda ya rasanya habis keselek air laut main main sekarang nyebur di kolam rasanya sempit gimana gitu (songong). Padahal renangnya Cuma ngambang ngambang ga jelas karena memang ga bisa.

19.00 – 21.00

Main air sampai magrib, mandi lagi dan perut sudah meronta – ronta minta diisi. Malam ini kami makan ayam bakar ( lagi), ya maklum bisanya nemu tempat makan ya paling penyetan atau kaledo lagi kaledo lagi. Hahaha Lumayanlah ayam bakar Palu ini banyak sambalnya, duh bahagianyaa ~

21.00 ~

Ga ada yang sanggup main kartu UNO lagi, ga ada yang begadang lagi, paling yang telpon telpon aja sudah. Selain itu kami langsung tidur saking lelahnya, tinggal besok waktu eksplor kota. Pliss jangan cepat kembali ke realita dunia kerja

Minggu, 3 Januari 2016

05.00 – 08.00

Bangun pagi, antri mandi dan beres beres kamar sudah jadi agenda. Yang masih malas bangun ya goler goler lagi, yang langsung duduk sarapan juga ada. Sudah ganteng dan cantik siap jalan lagi (walaupun moodku sempat morat marit di awal)

08.00 – 09.00

Pengennya sih diam membisu di perjalanan, tapi apa daya temen jalan kelewat koplak dan mengundang tawa. Lupa deh badmoodnya. By the way tujuan kami hari ini adalah Matantimali, sempat mau diganti ke Lore Lindu tapi semalam hujan lho kalau mau jadi sih aku manut aja. Excited jalan hanya tinggal di angan, sebenarnya pengen pulang aja dari semalam. Gini amat sih ya sanguin, jangan terlalu kebawa mood pliss.

09.00 – 10.45

Setelah yang lain berunding dan aku tidak berusaha melibatkan diri, terima ga terima kami ke Matantimali. Niat awal sih semua paralayang, entah walaupun harga tidak semurah yang ditulis di blog orang dan sudah naik sekian ribu rupiah dari harga lama aku tetap berminat untuk terjun. Gambling aja sih, kalau bisa on the spot bayar untuk paralayang ya oke kalaupun Cuma bisa liat pemandangan foto foto ya tetep terima aja. Trek jalan naik ke lokasi paralayang cukup licin, bahkan mobil bapak bapak di depanku sampai copot bannya. Gimana ga deg degan -___-

Dan kami tetap naik ke atas, alhamdulillah ya Allah sampai juga di lokasi paralayang. Sebenernya ga pengen pengen amat sih, moodnya udah terbang bersama gerimis yang mengguyur gunung Gawalise ini.

10.45 – 11.30

Kebelet pipis dan kamar mandi tutup, kuncinya dibawa penjaganya yang lagi ke Palu. Ya menurut ngana kudu gimana mau paralayang musti nahan pipis kan ga lucu. Yaudah ke kamar mandi darurat pake air mineral wkwkwkkw mohon maap. Di antara kami berenam sebenarnya yang pingin banget paralayang Mbak Resti, moodku yang sempat jelek tadi buyar ketika melihat parasut siap terbang. Aku juga mau! Apapun yang terjadi aku harus naik, dan akhirnya aku yang turun duluan. Kalo aku yang nunggu di bawah lokasi landing kan ga masalah, toh sepatu nanti bisa dititip ke rombongan yang membawa parasut ke lokasi take off. Berbekal kamera go pro hero 4 yang disediakan bersama perjalanan aku turun duluan, untuk ukuran orang yang phobia ketinggian aku nekat. Apapun deh demi paralayang, keluar uang lebih tak masalah barangkali tak ada kesempatan lagi aku coba paralayang di sini.

Entah apa yang ada di pikiran yang lain, tadinya yang ga mau paralayang cuma Dika karena kelelahan nyetir sekian hari perjalanan kami, ga ngerti yang lain nanti gimana. Aku nunggu di lokasi landing saja lah setelah landing di bawah, tanpa membawa barang bawaan apapun. Diiringi aba – aba untuk lari persiapan take off aku berteriak sekencang kencangnya, ya maklum namanya first timer dan phobia ketinggian ya begini. Bahagia rasanya melihat kota dari ketinggian, apalagi action cam nya bagus. Subhanallah Palu dari ketinggian bagus banget. Tandem paralayang ku, bang David yang ternyata atlit nasional dan berpengalaman di banyak wilayah di Indonesia sempat memutar – mutarkan parasut yang kunaiki dengan berbagai maneuver. Lumayan bikin jantungan sih, tapi seruu.

Pendaratan hampir sempurna, sedikit nyusruk tanah sih karena aku lupa berdiri di kaki sendiri. Efek keasikan duduk di udara. Hahaha

11.30 – 14.30

Tak membawa barang apapun, aku hanya plonga plongo sendirian di bawah. Sekian jam ngobrol dengan abang – abang penerbang parasut ini, tanya – tanya objek wisata sekitar, penasaran dengan teknik dan cara belajar menerbangkan paralayang lumayan ga bingung nganggur duduk di gedung tua.

Yang namanya menunggu rasanya membosankan ya, apalagi lapar. Atas saran penjaga pos di tempat landing sebaiknya aku menunggu di markas mereka which is pemandian air hangat. Dan aku lebih memilih menunggu di masjid sampai tak sengaja tertidur. Capek banget rasanya, lapar, hujan pula, pas banget lah ya udah sendiri ga pegang alat komunikasi pula. Hidup gue -__-

14.30 – 16.00

Bahagia adalah ketika kamu sendirian kelaparan dan berjalan di bawah hujan nemu ada uang di saku, lumayan buat beli minuman dan cemilan pengganjal perut sementara. Bingung dan hola holo jalan sendirian dari jauh terlihat mobil merah yang sepertinya kukenal, ternyata itu Arum, Icang dan Dika. Alhamdulillah ya Allah ketemu mereka, ternyata Arum batal terjun dan Mbak Resti bareng Ismul jadi terjun. Kami berempat pindah lokasi menunggu mereka di pemandian air panas sambil minum pop ice yang harganya lima ribu perak. Sedih ya di kampungku paling dua ribu aja harganya L

Mbak Resti dan Ismul sudah take off, dua parasut terlihat melayang di udara sementara cuaca semakin gelap. Semoga lancar ya sisbro, biar cepat makan kita. Atas info dari penjaga pos landing kami pindah lokasi lagi sekalian menjemput mereka.

Maafin kami bertiga ya Dik, Cang, Rum, mungkin bertiga yang paralayangan ngeselin dan bikin kalian nunggu lama. Pindahlah kami dari lokasi paralayang menuju kota demi sesuap nasi.

16.00 – 17.30

Perjalanan yang ditempuh untuk makan sore lumayan tak terlalu lama, setelah beribet ribet ria dengan lalu lintas jalanan kota yang mulai ramai semrawut kami sampai juga di resto penolong. Kenapa resto penolong? Karena tempat –tempat makan lain yang kami tuju tak satupun buka.

Alhamdulillah harga makanan tak terlalu mencekik dan makanannya lumayan enak 😀

17.30 – 18.00

Lelah setelah jalan bergunung gunung kami tempuh seharian, plus paralayang yang membuat adrenaline lumayan terpacu dan teriakan menguras tenaga saking excitednya berada di udara, kami pulang ke cottage bebersih dan sebentar rehat.

18.00 – 19.30

Mager mager malas keluar tapi keinginan untuk makan kaledo sumsum mengalahkan kemalasan kami akhirnya. Tenaga sudah berkurang banyak, mau ngeyel ngeyel ngajak makan keluar kok ya males. Akhirnya Arum yang sukses mengajak geng keluar untuk makan kaledo terakhir kalinya.

Yeaaay Kaledooo sumsum :”

19.30 ~

Perjalanan hari ini segera diselesaikan karena mobil akan dikembalikan, untung sempat mampir ke Rumah Adat Banua Oge meskipun sebentar dan memfoto Jembatan Palu IV yang  kami ganti nama jadi Jembatan Mcd walaupun hanya sebentar, masjid Babu Arkham yang terletak persis di pantai dan posisinya ke arah laut. Besok sudah Senin, rasanya cepat sekali waktu berlalu. Masih pengen liburan ke tempat lain lagii ~

Beres beres cottage dan segera istirahat, happy last minutes of this weekend!

Senin, 4 Januari 2016

04.00 – 05.00

Bangun pagi dan segera bersiap untuk kembali ke realita, liburan usai, taksi jemputan kami datang semenit kemudian. Mau pamitan tapi si ibu sudah berangkat ke tempat tugas, sampai ketemu lagi di lain waktu bu ~

05.00 – 06.06

Antrian penerbangan pagi lumayan ramai, kami datang tepat di waktu antrian sedang pada puncaknya. Well, tiket di tangan dan penerbangan tak terlalu molor dari jadwalnya. Sampai ketemu lagi di lain waktu, Sulawesi.

06.06 – 07.15

Selama perjalanan ke Balikpapan kami lebih banyak tidur saking kelelahannya. Paling sebentar sebentar nengok ke luar jendela berharap sunrise, tapi apa daya jam segini ngarep sunrise sedangkan langit diluar sedikit mendung dan sempat gerimis beberapa saat. Terimakasih 3 hari 3 malamnya Palu, see you when I see you. Sampai di Balikpapan Senin pertama dan hari kerja pertama di tahun 2016, tetap semangat kejar setoran demi liburan berikutnya yang tak kalah menyenangkan. Walaupun tunjangan kerja tetep dipotong, digawe hepi wae ya

See you in the next happy trip guys ~~